Prospek Industri Otomotif Global

Dampak dari krisis ekonomi global terhadap kemerosotan industri otomotif termasuk yang paling luar biasa. Ini antara lain ditandai kasus kebangkrutan sejumlah perusahaan otomotif besar, seperti General Motor (GM), Ford, dan Chrysler atau yang lebih dikenal The Big Three.

Kemerosotan The Big Three telah diidentifikasi sejak tahun 2000. Ini setidaknya dapat dilihat dari semakin menurunnya pangsa pasar mereka di Amerika Serikat (AS). Tiga perusahaan otomotif raksasa itu telah menderita penurunan penjualan mobil (light vehicles) hampir 20 persen di pasar AS sejak 2000 hingga 2008.

Pada 2008, pangsa penjualan The Big Three di AS untuk pertama kalinya akan berada di bawah 50 persen. Kurangnya inovasi di bidang teknologi, desain, biaya, imaji, dan unsur lainnya menjadi penyebab penurunan penjualan mobil keluaran The Big Three.

Rontoknya pabrikan raksasa dunia

Seiring dengan penurunan penjualan The Big Three, tingkat penjualan mobil pabrikan Jepang justru mengalami kemajuan pesat. Jika pada 2000 pangsa penjualan mobil Jepang di AS sekitar 25 persen, pada 2008 diperkirakan mencapai 40 persen.

Tingginya penjualan mobil Jepang tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki mobil keluaran Jepang, seperti harga yang lebih murah, efisiensi bahan bakar, dan unsur lainnya yang tidak ditemukan pada mobil produksi The Big Three.

Seiring dengan pelemahan kinerja tiga perusahaan raksasa itu, pangsa pasar mereka pun kini semakin menurun. Dan sebaliknya, pangsa pasar pabrikan otomotif dari Jepang mengalami peningkatan.

Pada 2008, tingkat penjualan mobil di AS mengalami kemerosotan yang drastis. Berdasarkan laporan AutoObserver, selama tahun 2008, seluruh The Big Six (The Big Three plus Honda, Nissan, dan Toyota) melaporkan penurunan penjualan.

Selama 2008, industri otomotif AS hanya mampu menjual mobil sebanyak 13,2 juta unit atau menurun 18 persen dibandingkan 2007 yang mampu menjual sebanyak 16,1 juta unit mobil.

Menurunnya kinerja penjualan industri otomotif di AS telah menyebabkan kondisi keuangan mereka juga dalam kondisi kritis dan terancam bangkrut.
The Big Three, misalnya, kini dalam kondisi sangat kritis.

GM mengalami kondisi yang paling parah. Sepanjang 2007, GM menderita kerugian sebesar 38,7 miliar dolar AS. Sedangkan pada 2008 kerugiannya diperkirakan akan lebih besar lagi.

Chrysler sepanjang 2008 diprediksi mengalami kerugian sebesar delapan miliar dolar AS. Adapun Ford mengalami kerugian 14,6 miliar dolar AS.

Kinerja industri otomotif di Eropa juga mengalami hal yang sama dengan di AS. Berdasarkan data dari European Automobile Manufacturers Association (EACA), selama 2008, permintaan terhadap mobil komersial baru mengalami penurunan sekitar sembilan persen di seluruh Eropa. Sedangkan permintaan mobil sedan turun hingga 7,8 persen.

Ini menggambarkan bahwa dampak krisis ekonomi telah memberikan dampak pada kinerja industri otomotif, khususnya paruh kedua tahun 2008. Penurunan kinerja tersebut merupakan yang paling tajam sejak 1993.

Secara keseluruhan, selama 2008, sebanyak 18,4 juta unit mobil baru telah diproduksi atau turun tujuh persen dibandingkan produksi 2007 sebesar 19,7 juta unit. Salah satu dari lima negara produsen mobil terbesar di Eropa, Italia, dilaporkan mengalami penurunan produksi mobil hingga 20,3 persen.

Disusul kemudian oleh Prancis turun 14,9 persen, Spanyol turun 12 persen, Inggris turun 5,8 persen, dan Jerman turun 2,8 persen.

Sementara itu, untuk kategori mobil penumpang, selama 2008 registrasi barunya mengalami penurunan sebesar 7,8 persen dan menjadi sebanyak 14.712.158 unit. Kinerja ini merupakan penurunan terburuk sejak 1993.

Permintaan mobil penumpang baru turun sebesar 8,4 persen di Eropa Barat. Sedangkan registrasi baru untuk kategori mobil penumpang di negara-negara Uni Eropa turun 0,7 persen selama 2008.

Industri otomotif di Jepang juga mengalami penurunan kinerja selama 2008. Kendati, penurunan kinerja industri otomotif di Jepang tidak seburuk yang dialami AS dan Eropa.

Berdasarkan data dari Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), selama 2008, produksi mobil di Jepang tercatat sebanyak 11.563.629 unit, atau 99,7 persen-nya dibandingkan total produksi mobil selama 2007.

Proyeksi 2009

Berdasarkan proyeksi PWC Automotive Institute, pada tahun 2009 ini, industri otomotof global akan mengalami penurunan produksi. Penurunan produksi ini tentunya terkait dengan melemahnya permintaan otomotif global.

Pemulihan kinerja industri otomotif dunia diperkirakan baru akan terjadi pada 2010, di mana kawasan Asia Pasifik akan mengalami pemulihan yang lebih cepat dibandingkan kawasan lainnya. Diperkirakan pada tahun ini produksi mobil dunia akan mencapai 54,9 juta unit atau terendah sejak 2001.

Seiring dengan kebangkrutan para raksasa industri mobil dunia, kini peta industri otomotif global juga mengalami perubahan. Terdapat pergeseran pangsa produksi otomotif yang signifikan dalam periode 2001-2009.

Bila pada 2001 produksi mobil di BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Cina) hanya mencapai 5,1 juta unit (sembilan persen dari total produksi mobil dunia), pada 2009 diperkirakan produksi mobil BRIC mencapai 13,8 juta (sekitar 25 persen dari total produksi mobil dunia).

Kebangkrutan industri otomotif di AS, sesungguhnya tidak mencerminkan prospek yang buruk bagi industri otomotif secara global. Permintaan otomotif diperkirakan akan tetap tinggi, terutama ditopang oleh permintaan dari pasar-pasar baru, seperti BRIC.

Berdasarkan proyeksi yang dikeluarkan CLEPA, asosiasi penyuplai industri otomotif Eropa, bulan Oktober 2008, meski pada 2009 penjualan otomotif akan mengalami stagnasi, namun pada 2010 dan selanjutnya, penjualan otomotif akan mengalami peningkatan kembali.

Diperkirakan industri otomotif global akan semakin terkonsolidasikan. Konsolidasi diperlukan terutama untuk mengatasi kesulitan finansial serta menghadapi ketatnya persaingan.

Jalurnya adalah melalui aksi merger dan akuisisi (merger & acquisition/M&A) yang dilakukan sejumlah pabrikan otomotif di dunia. Peningkatan aktivitas M&A di industri otomotif ini terutama terjadi sejak 2005.

Berdasarkan laporan PWC Automotive Institute terlihat bahwa jika pada 2004 aktivitas M&A baru mencapai 25,9 miliar dolar AS, pada 2007 aktivitas M&A telah mencapai 57,1 miliar dolar AS dan pada 2008 diperkirakan mencapai 31,6 miliar dolar AS.

Meski nilai M&A menurun dibanding tahun 2007, namun jumlah transaksi M&A pada 2008 cukup banyak. Kondisi ini mempertegas bahwa krisis ekonomi global telah mendorong pabrikan otomotif untuk mengonsolidasikan diri.

Sumber :
Sunarsip
Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI)
Republika, 29 Mei 2009


(-)

Peluang Bagi Industri Otomotif Indonesia

Berdasarkan fakta-fakta di atas, terlihat bahwa kecil kemungkinan industri otomotif global akan mengalami kebangkrutan massal, meskipun industri otomotif AS mengalami keruntuhan.

Kemungkinan yang paling masuk akal adalah terjadinya pergeseran pemasok kebutuhan otomotif yang akhirnya harus ditinggalkan The Big Three. Bila upaya penyelamatan industri otomotif AS betul-betul gagal, kemungkinan besar pangsa pasar mereka akan diambil alih oleh pabrikan dari Jepang, yang memang telah menyiapkan diri, selain pabrikan dari Eropa.

Meski demikian, pabrikan otomotif di luar AS tampaknya tidak akan memaksakan diri melakukan penetrasi di AS. Hal ini terutama didasari oleh realitas bahwa daya beli konsumen AS yang jatuh pada 2009. Prediksinya, pabrikan otomotif Jepang dan Eropa justru akan meningkatkan investasinya di pasar-pasar baru yang memiliki potensi untuk tumbuh pesat, seperti di BRIC.

Di antara negara BRIC, Cina merupakan negara yang memiliki potensi menjadi pasar otomotif yang paling diincar. Ini mengingat, tingkat pertumbuhan ekonomi Cina yang tinggi dan jumlah penduduknya yang sangat besar.

Indikasi bahwa pasar otomotif Cina akan mengalami booming, sudah terlihat sejak 2002. Berdasarkan Annual Report 2008 yang dikeluarkan VDA, aosiasi otomotif Jerman, disebutkan bahwa pada 2007 Cina mengalami peningkatan produksi mobil (untuk seluruh jenis) hingga 175 persen dibandingkan produksinya pada 2002.

Indonesia sesungguhnya memiliki peluang untuk menjadi tempat investasi (relokasi) bagi industri otomotif besar karena karakteristiknya yang sama dengan BRIC. Hal ini terutama didasari oleh fakta bahwa kekuatan ekonomi Indonesia selama ini sesungguhnya ditopang oleh sisi domestik kita memiliki daya beli yang cukup tinggi.

Terlihat bahwa meskipun krisis global mengancam prospek ekonomi kita, namun hal itu tampaknya tidak berlaku bagi produk otomotif di Indonesia. Pada 2008, volume penjualan mobil mencapai 607.805 unit, atau naik 39,89 persen dibandingkan 2007 yang mencapai 434.473 unit.

Pada 2007, pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia mencapai 35,9 persen dibandingkan 2006 yang merupakan pertumbuhan tertinggi di Asia, lebih tinggi sekalipun dengan Cina dan India.

Membaiknya penjualan sektor otomotif di pasar domestik, khususnya pada 2008, setidaknya sangat dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, tingkat suku bunga perbankan yang relatif rendah. Kedua, tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Ketiga, nilai tukar rupiah yang cukup stabil, terutama terhadap yen dan dolar AS.

Prestasi yang diraih pada 2008 memang mustahil diraih lagi pada 2009. Namun, penurunan penjualan mobil di Indonesia tidak akan separah dibanding negara-negara lain yang terkena resesi.

Hingga April 2009, penjualan mobil domestik mencapai 134.868 unit, atau turun 39 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 187.246 unit.

Namun demikian, tren tingkat penjualan mobil setiap bulannya mengalami peningkatan. Pada Januari 2009, volume penjualan mobil mencapai sekitar 31 ribu unit, pada April 2009 sudah 34.610 unit. Setelah pemilu, penjualan diperkirakan akan naik lebih besar.

Sentimen lain yang mendorong penjualan mobil adalah bunga kredit yang cenderung turun dan makroekonomi sudah baik. Dengan kata lain, di balik kebangkrutan industri otomotif global, sesungguhnya terdapat blessing bagi peningkatan aktivitas investasi, khususnya sektor otomotif di Indonesia.

Kita sesungguhnya dapat memainkan peran yang lebih aktif guna menarik kegiatan relokasi industri otomotif agar diarahkan ke Indonesia. Namun semuanya sangat tergantung pada aspek tawar menawar yang dimiliki kedua belah pihak: investor dan pemerintah Indonesia.
Read more

PEMBANGUNAN INDUSTRI HARUS MULAI DARI AWAL LAGI

Industri nasional kita semakin terpuruk. Padahal di dalam 1960, setara pembangunan kita dengan Korea Selatan nyaris sama. Namun, sekarang ini Korea Selatan bisa menjadi sangat maju karena setiap 10 tahun terjadi pergeseran sektor industri yang menjadi kontributor dalam pendapatan utama nasionalnya.

Sekarang Korea Selatan tidak lagi main di sektor industri yang berteknologi rendah seperti tekstil atau playwood sebagaimana yang terjadi di masa lalu, tetapi mereka sudah bergeser ke industri yang berteknologi tinggi seperti semikonduktor, komputer, dan otomotif, ujar Zulkieflimansyah, anggota komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS kepada Agus Suaman, Dedi Irawan, dan IB Massa Djafar dari majalah FIGURE. Bahkan, daya saing ekonomi kita kini jauh tertinggal dari Thailand dan Malaysia karena keduanya setiap 10 tahun juga mengalami lompatan sektor industri yang dikembangkannya. Ironisnya, alternatif kita ke depan tidak banyak karenanya Indonesia harus mulai menata dari awal dunia industrinya sebagaimana Korea Selatan dan Malaysia 40-50 tahun yang lalu, tutur peraih gelar Ph.D dalam bidang Industrialization, Trade and Ecomomic Policy di Departement of Economic Strathclyde Business School, University of Strathclyde, Inggris tahun 2001 ini.

Zul menegaskan tiga prinsip dasar untuk memulai mengembangkan industri nasional. Pertama, industri yang dikembangkan harus mampu menyerap tenaga kerja, karena persoalan kita adalah pengangguran. Kedua, industri juga harus siap menyerap tenaga kerja dengan engineering skill yang rendah. Ketiga, tidak memerlukan modal besar. Berikut petikan wawancara dengan Bang Zul.

Apa arti penting industri bagi pertumbuhan bangsa kita?

Sesungghuhnya, mesin pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terletak pada peningkatan produktivitas sektor industri. Ini yang sering tidak kita sadari bersama. Betul bahwa kita telah mengalami pergantian beberapa pemerintahan, namun kita seakan tidak pernah keluar dari krisis yang mendera sejak tahun 1998 karena sektor industrinya stagnan bahkan menurun. Policy maker yang memahami dinamika industri di Indonesia tidak banyak. Akibatnya, terapi yang dikeluarkan sering ad hoc, tidak memahami gambaran besar dan tidak menyentuh akar masalahnya. Cerita buramnya, jika produktivitas sektor industri seperti sekarang dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, siapapun presidennya tidak akan mungkin mengembalikan ekonomi Indonesia seperti sebelum krisis. Ekonomi kita akan tetap rentan dari gejolak eksternal dan akibatnya political instability pun akan kerap menyapa kita. Siapapun presidennya, partai apapun yang menjadi pemenang, tetap akan punya tugas berat di masa yang akan datang.


Jadi, pengelolaan industri menjadi sangat strategis?

Ya begitu, kalau dianalogikan dengan kendaraan, pemerintah itu hanya streering the wheel, mengendalikan engine of growth nya itu adalah sektor usaha. Sampai sekarang kita belum memiliki kebijakan industri yang eksplisit. Upaya-upaya ke arah itu sudah dilakukan oleh Menteri Perindustrian kita yang sekarang, tapi tetap saja industri yang ingin dikembangkan spektrumnya terlalu luas. Daya saing ekonomi kita kuat hanya bisa dicapai kalau produktivitas sektor industri kita meningkat dan itu hanya mungkin dicapai kalau ada inovasi teknologi yang terjadi di sektor idnsustri kita. Nah, insentif untuk mengembangkan teknologi di sektor industri ini yang belum kelihatan. Pembelajaran teknologi sering direduksi sebatas R&D, padahal setiap industri punya trajektori yang berbeda dalam mengembangkan teknologi ini. Jadi, tak melulu harus R&D. Ada reserve engineering leraning by doing learning by imitation, dan lain sebagainya. Jadi, seharusnya kita memiliki road map industri yang komprehensif yang menyatukan kebijakan industri, kebijakan teknologi, dan kebijakan pendidikan nasional.

Tapi, bukankah di masa orde baru kita punya konsep negara industri seperti yang terurai dalam beberapa Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita)?

Repelita memang suatu konsep yang bagus dan sangat sistematis. Sayangnya warisan bagus itu tidak kita lestarikan. Kekeliruan konsep repelita orde baru kerena hanya mendefinisikan industrialisasi sebagai peningkatan proporsi atau kontribusi sektor industri terhadap ekonomi nasional. Padahal industrialisasi sejatinya bukan hanya peningktan proporsi dan kontribusi, tapi juga terjadinya pendalaman struktur industri. Nah, di Indonesia sepanjang orde baru proporsi sektor industri memang terus meningkat, tetapi pendalaman struktur industri kita tak pernah terjadi. Dengan kata lain, industrialisasi sebagaimana didengung-dengungkan selama ini itu tak pernah terjadi. Kita dari dulu sampai sekarang masih terjebak pada industri-industri tradisional yang technogical content-nya rendah. Tak pernah ada pergeseran yang signifikan. Kontributor kita pada ekspor masih didominasi oleh industri yang itu-itu saja seperti puluhan tahun silam. Masih didominasi tekstil, playwood, hasil-hasil komoditas pertanian, dan lain-lain yang bernilai tambah rendah.


Jadi, industri apa yang ideal dikembangkan di Indonesia?

Indonesia tidak memiliki banyak pilihan. Industri yang harus dikembangkan harus banyak menyerap tenaga kerja dan siap mengakomodir tenaga-tenaga kerja dengan engineering skill yang rendah. Jadi, pilihan kita sangat terbatas. Ya mulai dari tekstil, elektronik, playwood, hasil-hasil pertanian, dan perkebunan serta information technology (IT). IT ini bisa segera kita kembangkan karena memang pembelajarannya bisa cepat dan SDM-SDM kita relatif siap. Nah, dalam waktu cepat kita juga harus bergerak mengembangkan industri mesin perkakas (machine tools) yang merupakan jantung dari setiap industrialisasi di berbagai Negara. Tanpa keberadaan industri mesin perkakas tidak mungkin kita mengalami industrialisasi. Industri mesin perkakas adalah prioritas utama yang harus kita gesa dan kita beri insentif-insentif khusus. Dengan industri mesin perkakas yang kuat melahirkan industri-industri turunan yang punya konvergensi teknologi luar biasa. Ini akar masalah kita. Kita tidak punya indsutri yang mesin perkakasnya memadai yang mampu mendukung industri-industri kita yang lain. Barang barang modal kita hampir semuanya kita impor dan ini sangat tidak baik bagi perkembangan indsutri nasional kita ke depan. Lingkaran setan kertegantungan ini harus kita putus segera.

Mengapa idustrialisasi itu penting buat negara berkembang?

Kalau kita ingin ekonomi kita maju maka industrialisasi adalah keniscayaan. Dalam ilmu ekonomi ada yang namanya Marginal Productivity of Labor (MPL). Nah, di sektor pertanian MPL itu nol dan bahkan negatif. Artinya, tenaga kerja kita tak mungkin semuanya di serap di sektor pertanian karena pada titik tertentu tambahan tenaga kerja di sektor pertanian justru tak menghasilkan peningkatan produktivitas bahkan sebaliknya menurunkan produktivitas. Akibatnya, kelebihan tenaga kerja yang kita alami tersebut harus diserap oleh sektor industri. Industri tak harus identik dengan pabrik-pabrik atau kepulan-kepulan asap industri, produk-produk pertanian yang diberikan sentuhan teknologi adalah bagian dari industrialisasi itu.

Selama ini apa yang ingin dikembangkan pada industri kita?

Kita terlampau ingin semuanya dikembangkan

Lalu, sekarang kita harus bagaimana?

Tak ada jalan pintas dan quick fix solution. Menteri perindustrian harus berani tegas pada kolega-koleganya di kabinet bahwa kualitas pertumbuhan harus diperhatikan serius. Dan pertumbuhan berkualitas itu tak hanya bisa disandarkan pada peningkatan konsumsi tapi pada peningkatan produktivitas di sektor industri. Membangun industri yang kuat harus jadi visi besar pemerintahan ini. Fondasi yang kuat di bidang industri harus segera diletakkan demi kemaslahatan bangsa ini di masa yang akan datang.

Sayangnya, pemerintahan sekarang ini dan pemerintahan 5 dan 10 tahun ke depan tak banyak memiliki banyak kemewahan untuk membenahi sektor industri kita. Industri kita saat ini adalah industri yang memiliki kelemahan struktural yang sangat mendasar dan berat. Struktur industri kita sangat dangkal (shallow) dan tak lebih dari sekedar industri assembling dan foot loose industries.

Dangkalnya pendalaman sektor industri serta ketidakmampuan kita menggeser industri kepada yang bernilai tambah tinggi sering dialamatkan kepada buruknya iklim investasi. Di satu sisi memang benar, tapi yang paling mendasar adalah karena ketidakmampuan kita di sektor industri menguasai kemampuan teknologi yang memadai. Nyanyian tentang pembenahan sektor hukum, pemberantasan korupsi, perbaikan iklim investasi sudah terlalu sering kita dengar. Tapi, nyanyian tentang pentingnya teknologi di sektor industri nyaris tak terdengar. Sunyi sekali.

Maksudnya?

Nyanyian tentang teknologi liriknya seharusnya tak mesti berkisar di sekitar figur mantan presiden Habibie, ataupun ketidaksediaan anggaran R&D yang memadai di lembaga-lembaga riset pemerintah seperti LIPI dan BPPT. Terlalu memfokuskan diri, menaruh harapan besar, dan bertumpu pada lembaga-lembaga riset pemerintah sebagai aktor kunci pengembangan teknologi nasional di masa depan tidak saja salah kaprah secara teoritis empirik, tapi juga fatal bagi pengembangan teknologi nasional ke depan dan kemandirian ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Nyanyian tentang teknologi sudah saatnya liriknya kita fokuskan ke sektor industri. Industri-industri strategis warisan Habibie adalah mutiara yang sudah sepatutnya diberi perhatian secara serius. Putera-puteri terbaik negeri ini yang bertebaran tak optimal dalam lembaga-lemabaga riset pemerintah seharusnya bisa bisa lebih dioptimalkan sebagai resource pool yang bisa didistribusikan dan dimanfaatkan oleh sektor industri. Kementerian Riset ke depan tak boleh lagi menjadi mercu suar redup tak berfungsi, sebagai fortfolio sisa tak berfungsi. Tapi, ia harus punya wibawa tinggi untuk mempengaruhi berbagai kebijakan kementerian perdagangan, perindustrian, keuangan, tenaga kerja, perikanan dan kelautan, pendidikan, dan lainnya. Negeri ini adalah negeri besar dan berkemampuan. Mimpi kita tentang kemandirian ekonomi akan tetap jadi ilusi kalau produk-produk sederhana seperti boneka, mainan, dan mainan lainnya yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan dan sangat sederhana sekali teknologinya masih juga kita impor.

Agenda ril ke depan menurut bang Zul?

Pemerintahan tak boleh lagi terjebak kepada mimpi-mimpi berjangka pendek yang menyesatkan. Hasil dan perubahan nyata harus segera diperlihatkan kepada masyarakat, tetapi fondasi ekonomi untuk sustainability jangka panjang perlu difikirkan secara serius. Membangun industrial base yang kokoh yang didukung oleh akumulasi kemampuan teknologi yang terencana dan intensif adalah PR yang serius, dan itu butuh proses yang agak panjang. Tapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dan menjadi agenda kerja ke depan.

Pertama, pemerintah harus memiliki keberanian untuk menyadarkan setiap komponen bangsa bahwa tak ada jalan pintas dalam menyelesaikan krisis multidimensi yang kita hadapi. Jalan yang harus dilalui terlalu berliku, panjang, dan mendaki.

Kedua, pemerintah harus terus menjaga perbaikan dan kestabilan lingkungan ekonomi makro yang sudah dicapai sambil terus melakukan perbaikan infrastruktur serta perhatian yang serius pada dunia pendidikan yang terbaiklah yang memungkinkan tumbuh dan berseminya bibit-bibit industri yang tangguh di masa depan.

Ketiga, pemerintah harus segera memformulasikan visi strategi industri Indonesia. Pola industrialisasi yang diinginkan di masa depan sampai saat ini masih gelap sehingga tak ada sinyal yang memberikan sedikit asa kepada para investor. Tak ada petunjuk yang tegas dan jelas tentang kebijakan indsutri masa depan.

Keempat, pemerintah harus berani memberikan prioritas kepada industri-industri tertentu yang tetap eksis di saat krisis dan pada saat yang sama terus mendorong diversifikasi industri ke arah yang lebih punya kemampuan teknologi yang lebih baik. Asosiasi-asosiasi industri harus didorong untuk diberdayakan dalam proses ini.

Kelima, pemerintah harus berupaya menumbuhkan sistem pendukung (support system) yang mampu meng-up grade kemampuan teknologi industri-industri kita. Di sektor manufaktur misalnya, kita harus mempunyai institusi teknis yang mampu membantu mereka untuk menghasilkan produk-produk yang lebih canggih seperti kimia, motor sepeda, dan komponen-komponen elektronik.

Keenam, pemerintah harus berupaya, bila perlu memaksa para industrialis besar Indonesia atau perusahaan-perusahaan multinasional untuk mengembangkan supplier dan vendor network. Para konglomerat tak boleh dibiarkan bahagia dan puas dengan sekedar menjadi dealer dan pedagang.

Ketujuh, pemerintah melalui sistem pelatihan dan pendidikan yang lebih terencana dan terfokus harus mampu menghasilkan SDM yang berkemampuan dalam melakukan asimilasi teknologi asing ke industri lokal.

Kedelapan, pemerintah harus mampu mendorong lahirnya forum yang formal, dimana pemerintah dan industri bisa bertemu dan membicarakan permasalahan daya saing bangsa secara serius. Tumbuhnya kelompok lobby seperti Kadin dan asosiasi-asosiasi bisnis banyak berkonotasi politis dan untuk kepetingan jangka pendek.

Kesembilan, pemerintah harus menyuarakan secara eksplisit tentang perlunya sistem inovasi nasional, dimana kerjasama dan komunikasi intensif antar dunia usaha, lembaga-lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi bisa dilakukan.

Kesepuluh, data base tentang ilmuwan, para ahli di lembaga-lembaga riset pemerintah serta kompetensinya masing-masing harus mulai dibuat untuk kemudian informasinya bisa dishare dengan kalangan dunia usaha.

Akhirnya, semuanya memang harus berpulang kepada kemauan politik pemerintah sendiri. Perlu ada kerendahan hati secara kolektif untuk menumbuhkan semangat pengabdian pada kepentingan bangsa dan masyarakat. Bukan mementingkan kelompok dan golongan sambil menjalankan politics as usual, dimana nafsu berkuasa kadang mengalahkan akal sehat dan dorongan untuk berkarya.
Read more

MENGENAL TEKNIK INDUSTRI YUK !

Teknik industri adalah cabang dari ilmu teknik yang berkenaan dengan pengembangan, perbaikan, implementasi, dan evaluasi sistem integral dari manusia, pengetahuan, peralatan, energi, materi, dan proses.

Pada dasarnya, ilmu Teknik Industri dapat dibagi ke dalam tiga bidang keahlian, yaitu Sistem Manufaktur, Manajemen Industri, dan Sistem Industri dan Tekno Ekonomi.

* Sistem Manufaktur

Sistem Manufaktur adalah sebuah sistem yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, dan informasi melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Sistem Manufaktur ini antara lain adalah Sistem Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Pemodelan Sistem, Perancangan Tata Letak Pabrik, dan Ergonomi.

* Manajemen Industri

Bidang keahlian Manajemen Industri adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Manajemen Industri antara lain adalah Manajemen Keuangan, Manajemen Kualitas, Manajemen Inovasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keputusan dan Ekonomi Teknik.

* Sistem Industri dan Tekno Ekonomi

Bidang keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan daya saing sistem integral yang terdiri atas tenaga kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Bidang keilmuan yang dipelajari di dalam Sistem Industri dan Tekno Ekonomi antara lain adalah Statistika Industri, Sistem Logistik, Logika Pemrograman, Operational Research, dan Sistem Basis Data.
Read more

SEJARAH TEKNIK INDUSTRI



Awal mula Teknik Industri dapat ditelusuri dari beberapa sumber berbeda. Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri meskipun seluruh gagasannya tidak asli. Beberapa risalah terdahulu mungkin telah mempengaruhi perkembangan Teknik Industri seperti risalah The Wealth of Nations karya Adam Smith, dipublikasikan tahun 1776; Essay on Population karya Thomas Malthus dipublikasikan tahun 1798; Principles of Political Economy and Taxation karya David Ricardo, dipublikasikan tahun 1817; dan Principles of Political Economy karya John Stuart Mill, dipublikasikan tahun 1848. Seluruh hasil karya ini mengilhami penjelasan paham Liberal Klasik mengenai kesuksesan dan keterbatas dari Revolusi Industri. Adam Smith adalah ekonom yang terkenal pada zamannya. "Economic Science" adalah frasa untuk menggambarkan bidang ini di Inggris sebelum industrialisasi America muncul .

Kontribusi penting lainnya dan mengilhami Taylor adalah Charles W. Babbage. Babbage adalah profesor ahli matematika di Cambridge University. Salah satu kontribusi pentingnya adalah buku yang berjudul On the Economy of Machinery and Manufacturers tahun 1832 yang mendiskusikan banyak topik menyangkut manufaktur. Babbage mendiskusikan gagasan tentang Kurva Belajar (Learning Curve), pembagian tugas dan bagaimana proses pembelajaran dipengaruhi, dan efek belajar terhadap peningkatan pemborosan. Dia juga sangat tertarik pada metode pengaturan pemborosan. Charles Babbage adalah orang pertama yang menganjurkan membangun komputer mekanis. Dia menyebutnya "analytical calculating machine" , untuk tujuan memecahkan masalah matematika yang kompleks.

Di Amerika Serikat selama akhir abad 19 telah terjadi perkembangan yang mempengaruhi pembentukan Teknik Industri. Henry R. Towne menekankan aspek ekonomi terhadap pekerjaan insinyur yakni bagaimana seorang insinyur akan meningkatkan laba perusahaan? Towne kemudian menjadi anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME) sebagaimana yang dilakukan beberapa pendahulunya di bidang Teknik Industri. Towne menekankan perlunya mengembangkan suatu bidang yang terfokus pada sistem manufactur. Dalam Industrial Engineering Handbook dikatakan bahwa "ASME adalah tempat berkembang biaknya Teknik Industri". Towne bersama Fredrick A. Halsey bekerja mengembangkan dan memaparkan suatu Rencana Kerja untuk mengurangi pemborosan kepada ASME. Tujuan Recana ini adalah meningkatkan produktivitas pekerja tanpa berpengaruh negatif terhadap ongkos produksi. Rencana ini juga menganjurkan bahwa sebagian keuntungan dapat dibagikan kepada pekerja dalam bentuk insentif.

Henry L. Gantt (juga anggota ASME) menekankan pentingnya seleksi karyawan dan pelatihannya. Dia, seperti juga Towne dan Halsey, memaparkan paper dengan topik-topik seperti biaya, seleksi karyawan, pelatihan, skema insentif, dan penjadwalan kerja. Dia adalah pencipta Diagram Gantt (Gantt chart), yang saat ini merupakan diagram yang sangat populer digunakan dalam penjadwalan kerja. Sampai sekarang Gantt chart digunakan dalam bidang statitik untuk membuat prediksi yang akurat. Jenis diagram lainnya telah dikembangkan untuk tujuan penjadwalan seperti Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan Critical Path Mapping (CPM).

Sejarah Teknik Industri tidak lengkap tanpa menyebut Frederick Winslow Taylor. Taylor mungkin adalah pelopor Teknik Industri yang paling terkenal. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota ASME. Dia menciptakan istilah "Scientific Management" untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya, seperti yang lainnya, meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan. Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika.

Keluarga Gilbreth diakui akan pengembangan terhadap Studi Waktu dan Gerak (Time and Motion Studies). Frank Bunker Gilbreth dan istrinya Dr. Lillian M. Gilbreth melakukan penelitian mengenai Pemahaman Kelelahan (Fatigue), Skill Development, Studi Gerak (Motion Studies), dan Studi Waktu (Time Studies). Lillian Gilbreth memeliki gelasr Ph.D. dalam bidang Psikologi yang membantunya dalam memahami masalah-masalah manusia. Keluarga Gilbreth meyakini bahwa terdapat satu cara terbaik ("one best way") untuk melakukan pekerjaan. Salah satu pemikiran mereka yang siginifikan adalah pengklasifikasian gerakan dasar manusia ke dalam 17 macam, dimana ada gerakan yang efektif dan ada yang tidak efektif. Mereka menamakannya Tabel Klasifikasi Therbligs (ejaan terbalik dari kata Gilbreth). Gilbreth menyimpulkan bahwa waktu untuk menyelesaikan gerakan yang efektif (effective therblig) lebih singkat tetapi sulit untuk dikurangi, demikian sebaliknya dengan non-effective therbligs. Gilbreth mengklaim bahwa setiap bentuk pekerjaan dapat dipisah-pisah ke dalam bentuk pekerjaan yang lebih sederhana.

Saat Amerika Serikat menghadapi Perang Dunia II, secara diam-diam pemerintah mendaftarkan para ilmuwan untuk meneliti perencanaan, metode produksi, dan logistik dalam perang. Para ilmuwan ini mengembangkan sejumlah teknik untuk pemodelan dan memprediksi solusi optimal. Lebih lanjut saat informasi ini terbongkar. lahirlah Operation Research. Banyak hasil penelitian yang masih sangat teoritis dan pemahaman bagaimana menggunakannya dalam dunia nyata tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan jurang antara kelompok Operation Research (OR) dan profesi insinyur terlalu lebar. hanya sedikit perusahaan yang dengan sigap membentuk departemen Operation Research dan mengkapitalisasikannya.

Pada 1948 sebuah komunitas baru, American Institute for Industrial Engineers (AIIE), dibuka untuk pertama kalinya. Pada masa ini Teknik Industri benar-benar tidak mendapat tempat yang khusus dalam struktur perusahaan. Selama tahun 1960 dan sesudahnya, beberapa perguruan tinggi mulai mengadopsi teknik-teknik operation research dan menambahkannya pada kurikulum Teknik Industri. Sekarang untuk pertama kalinya metode-metode Teknik Industri disandarkan pada fondasi analisa, termasuk metode empiris terdahulu lainnya. Pengembangan baru terhadap optimisasi dalam matematika sebagaimana metode baru dalam analisa statistik membantu dalam mengisi lubang kosong bidang Teknik Industri dengan pendekatan teoritis.

Kemudian, permasalahan Teknik Industri menjadi begitu besar dan kompleks pada dan saat komputer digital berkembang. Dengan komputer digital dan kemampuannya menyimpan data dalam jumlah besar, insinyur Teknik Industri memiliki alat baru untuk mengkalkulasi permasalahan besar secara cepat. Sebelumnya komputasi pada suatu sistem memakan mingguan bahkan bulanan, tetapi dengan komputer dan perkembangan sub-program "sub-routines", perhitungan dapat dilakukan dalam hitungan menit dan dengan mudah dapat diulangi terhadap kriteria problem yang baru. Dengan kemampuannya menyimpan data, hasil perhitungan pada sistem sebelumnya dapat disimpan dan dibandingkan dengan informasi baru. Data-data ini membuat Teknik Industri menjadi cara yang kuat dalam mempelajari sistem produksi dan reaskinya bila terjadi perubahan.

Di Indonesia

Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada jaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.

Di Universitas Indonesia (www.ui.edu), keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia, situs resminya di http://www.ie.ui.ac.id/

Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian.

Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.

Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan.

Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar.

Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik.

Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.

Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.

Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.

Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB.

Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_industri

Sumber Gambar:
http://blog.kievukraine.info
Read more
 

Teknik Industri Design by Insight © 2009